Mata Pisau di Pandan Dure

Danau Pelangi, Bendungan Pandan Dure-Lombok
Ucapan sayang itu membuatku terdiam. Sangat tulus terdengar dan sungguh damai sekaligus nyaman rasanya, apalagi dengan pelayanan Firmanto Mahfudz sejak siang tadi. Aku gagap tidak tau harus menyambut apa dan terdiam sejenak sampai Firmanto Mahfudz menyuruhku ganti pakaian dengan alasan basah karena minuman tadi.

Ingin rasanya menolak perintah itu. Tapi Aku harus bilang apa.

“Curang side, tiang engak mau ganti pakaian,

“Mengapa?

“Segerah ganti pakaian leq dalem mobil, sementara kamu ada di dekatku,

“Ooo,,haha,haha,aaa, besok ya kalau kita udah nikah,”jawab Mahfudz sambil tertawa lepas.

Cetusan spontan itu membuatku terdiam. Sementara itu, Firmanto Mahfudz yang mendengar kehawatiranku untuk ganti pakaian didepannya mulai terlihat menengok kiri-kanan dan akhirnya berhenti kembali di dekat toko pakaian.“Okke, sekarang ganti pakaiannya, Tiang juga mau pergi ganti nih, cepatan ya, jangan sampai kepergok,” saran Firmanto Mahfudz yang sekejap membuatku ingat rumah karena dipergoki Ibu ketika pelukan dengan Ayah sebagai alasan utama malu pulang.(Bersambung)